Beberapa tahun yang lalu, aku mengira titik nol itu adalah titik dimana aku bisa memulai lagi semuanya dari awal. Lepas dari semua kejenuhan, kemuakan soal rutinitas, serta ketidak puasan tentang pencapaian saat merasa kita salah dalam mengawali prosesnya. Lalu mulailah mengambil langkah dengan (kesan) pasrah pada apa nanti yang akan terjadi di depan tanpa ada target yang jelas. Lihat saja nanti, 'Jalani hidup seperti air mengalir'. Seolah-olah pepatah itu mewakili semua langkah yang akan diambil.
Namun akhir-akhir ini sepertinya aku mulai sadar jika persepsi tentang titik nol beberapa tahun yang lalu itu salah. Kedangkalan ilmu, kurangnya pengetahuan, dan tingginya ego serta keangkuhanku sebagai manusia yang melahirkan persepsi seperti itu.
Yang aku rasakan, titik nol itu ternyata bukan kita yang menentukan, bukan kita yang membuat, bukan kita yang menyeting. Kita hanya sebagai pelaku peran saja. Titik nol itu Tuhan yang membuat, bukan kita dengan seenak udel kita sendiri.
Titik nol adalah dimana berkumpulnya semua keputus asaan dalam aspek apapun. Seolah kita merasa menjadi seseorang yang gagal, salah langkah, tidak beruntung, sial, dan ke 'ndelalah'an buruk yang lain. Bahkan seolah-olah semua menjauh dari dirinya. Keluarga, sahabat, orang spesial, hal-hal yang menyenangkan, apapun itu.
Pada akhirnya, setiap orang pasti akan sampai pada titik nol ini. Yah... Semua kembali kepada si pemeran. Jika dia percaya Tuhan, dia pasti akan kuat melaluinya. Tapi percaya Tuhan pun tak menjamin mereka sanggup melaluinya. Kekuatan iman lah yang menentukan. Dan sebagai seseorang yang percaya Tuhan, semoga kita dikuatkan saat periode hidup ini datang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar