'Dirumah enggak mas?' Tiba-tiba ada pesan teks masuk dihapeku. Kepala pesannya tertulis atas nama Manche. 'Dirumah ce' balasku, 'Aku tak kerumah mas,mau minta kopi', langsung balas si Manche secepat itu juga.
Aku masih malas malasan saat suara tersengal sengal vespanya terdengar keras di depan rumah. Pagi ini manche sudah ketiga kalinya main kerumah dalam sebulan ini, tapi cuma 2x saja bertemu dan ngobrol denganku.
'Wah ampun mas, PB ne bosok iki, wis disambung barang jik ngedrop wae'. Ujar Manche. 'Iyo ce, podo kandaku wingi wae nek bosok tak balekne duit', jawabku. Memang tujuan utama Manche kerumahku adalah urusan batterypack, ceritanya aku jual batterypack, tetapi stok terakhirku ini banyak yang gak sehat. Termasuk manche ini yang beli, pas kebagian barang yang gak sehat.
Pagi ini memang 'srengenge' agaknya sedang malu-malu, 3 gelas kopi panas pun sudah siap disruput juga. Aku, Manche, temannya, Wowok, dan Bara terlibat obrolan sekenanya. Asap rokok mulai mengepul dari mulut mereka, tanya, tawa, gerutu, serta gerakan tangan memegang hp atau kepala berkali-kali terulang. Aku lupa apa saja yang sudah kita bahas pada obrolan sepagi ini kecuali kalimat yang diucapkan manche. 'Mas dari mulai masuk gang sampai rumah sini aku lihat kok sepertinya warga sini sedang lesu wajahnya'. 'Iya che, memang sedang musim paceklik ini lho mungkin', jawabku. Agaknya Manche lupa kalau rumahku terletak diujung gang sedalam 500 meter.