Sabtu, 31 Januari 2015

Suatu pagi di desa ngale

'Dirumah enggak mas?' Tiba-tiba ada pesan teks masuk dihapeku. Kepala pesannya tertulis atas nama Manche. 'Dirumah ce' balasku, 'Aku tak kerumah mas,mau minta kopi', langsung balas si Manche secepat itu juga.

Aku masih malas malasan saat suara tersengal sengal vespanya terdengar keras di depan rumah. Pagi ini manche sudah ketiga kalinya main kerumah dalam sebulan ini, tapi cuma 2x saja bertemu dan ngobrol denganku.

'Wah ampun mas, PB ne bosok iki, wis disambung barang jik ngedrop wae'. Ujar Manche. 'Iyo ce, podo kandaku wingi wae nek bosok tak balekne duit', jawabku. Memang tujuan utama Manche kerumahku adalah urusan batterypack, ceritanya aku jual batterypack, tetapi stok terakhirku ini banyak yang gak sehat. Termasuk manche ini yang beli, pas kebagian barang yang gak sehat.

Pagi ini memang 'srengenge' agaknya sedang malu-malu, 3 gelas kopi panas pun sudah siap disruput juga. Aku, Manche, temannya, Wowok, dan Bara terlibat obrolan sekenanya. Asap rokok mulai mengepul dari mulut mereka, tanya, tawa, gerutu, serta gerakan tangan memegang hp atau kepala berkali-kali terulang. Aku lupa apa saja yang sudah kita bahas pada obrolan sepagi ini kecuali kalimat yang diucapkan manche. 'Mas dari mulai masuk gang sampai rumah sini aku lihat kok sepertinya warga sini sedang lesu wajahnya'. 'Iya che, memang sedang musim paceklik ini lho mungkin', jawabku. Agaknya Manche lupa kalau rumahku terletak diujung gang sedalam 500 meter.

Kamis, 29 Januari 2015

Titik nol (salah persepsi)

Beberapa tahun yang lalu, aku mengira titik nol itu adalah titik dimana aku bisa memulai lagi semuanya dari awal. Lepas dari semua kejenuhan, kemuakan soal rutinitas, serta ketidak puasan tentang pencapaian saat merasa kita salah dalam mengawali prosesnya. Lalu mulailah mengambil langkah dengan (kesan) pasrah pada apa nanti yang akan terjadi di depan tanpa ada target yang jelas. Lihat saja nanti, 'Jalani hidup seperti air mengalir'. Seolah-olah pepatah itu mewakili semua langkah yang akan diambil.

Namun akhir-akhir ini sepertinya aku mulai sadar jika persepsi tentang titik nol beberapa tahun yang lalu itu salah. Kedangkalan ilmu, kurangnya pengetahuan, dan tingginya ego serta keangkuhanku sebagai manusia yang melahirkan persepsi seperti itu.

Yang aku rasakan, titik nol itu ternyata bukan kita yang menentukan, bukan kita yang membuat, bukan kita yang menyeting. Kita hanya sebagai pelaku peran saja. Titik nol itu Tuhan yang membuat, bukan kita dengan seenak udel kita sendiri.

Titik nol adalah dimana berkumpulnya semua keputus asaan dalam aspek apapun. Seolah kita merasa menjadi seseorang yang gagal, salah langkah, tidak beruntung, sial, dan ke 'ndelalah'an buruk yang lain. Bahkan seolah-olah semua menjauh dari dirinya. Keluarga, sahabat, orang spesial, hal-hal yang menyenangkan, apapun itu.

Pada akhirnya, setiap orang pasti akan sampai pada titik nol ini. Yah... Semua kembali kepada si pemeran. Jika dia percaya Tuhan, dia pasti akan kuat melaluinya. Tapi percaya Tuhan pun tak menjamin mereka sanggup melaluinya. Kekuatan iman lah yang menentukan. Dan sebagai seseorang yang percaya Tuhan, semoga kita dikuatkan saat periode hidup ini datang.

Jumat, 16 Januari 2015

Kenalan dulu

Hai kamu....
Kamu yang sudah kenal aku sebelumnya, atau yang belum kenal sama sekali.
Mungkin yang sudah kenal aku sebelumnya akan sedikit kaget kalau aku bilang ini adalah postingan pertamaku.hahahahaha
Tapi buat yang belum kenal, kenalin nih :
Namaku AGUS UDHA RAYI SAPUTRO. Lahir di oku, 8 agustus 1989 silam.

Umur 2 tahun kita sekeluarga pulang jawa gan, nah disini nih namaku jadi berubah. Apalagi pas ijazah SD keluar.
Jadi ini nih versi ijazah yang dirubah guru SD ku :
Nama : Agus Udho Rayi Saputra
TTL : Ngawi, 7 Agustus 1989

Nah lho.... Aneh kan kalo pake nama UDHO?
Kalo orang jawa tahu deh apa artinya udho.
Tapi gegara nama ini sih aku cepet dikenali sama temen" pas waktu sekolah dulu (jangan kaget, aku juga sekolah kok)

Oke, ini dulu aja postingan pertamaku.
Salam kenal ya :)